A. LATAR BELAKANG
Indonesia terkenal akan kekayaan alamnya sejak dahlu.
Berbagai macam flora dan fauna sangat mudah ditemukan di negeri kita ini.
Namun, kebaikan bangsa Indonesia ini disalahgunakan oleh bangsa barat, seperti
Eropa. Keserakahan bangsa Eropa yang menanamkan pemahaman kolonialisme dan
imperialisme menjadi awal dari kegiatan “perburuan mutiara dari timur”. Berikut
adalah hal yang melatar belakangi kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia:
1.
Runtuhnya Kekaisaran Romawi
Kekaisaran Romawi mengalami kejayaan pada masa
pemerintahan Kaisar Octavianus Augustus dimana kekuasaanya hampir meliputi
seluruh Eropa, Afrika Utara dan Afrika Barat. Namun setelah runtuhnya
kekaisaran Romawi ini pada tahun 476 M berakibat pada kemunduran jalinan dagang
antara Asia dengan Eropa yang mengakibatkan kehidupan wilayah tersebut semakin
merosot. Zaman
kemunduran ini disebut dengan istilah Zaman Kegelapan (Dark Ages) dan membuat
tatanan hidup bangsa-bangsa di Eropa menjadi kacau balau.
2.
Perang
Salib
Perang
ini disebabkan karena perebutan kota Yerusalem. Dampak adanya Perang Salib :
3.
Jatuhnya Konstatinopel ke tangan Turki
Terjadi pada tahun
1453, Turki menguasai Konstatinopel II dan menimbulkan kesulitan bagi
bangsa Eropa khususnya dalam bidang perdagangan, akses bangsa Eropa untuk
mendapatkan komoditas penting seperti rempah-rempah, emas, gading, sutera
seperti sebelumnya menjadi tertutup.
4.
Perkembangan
Teknologi
Hal ini didorong oleh penemuan mesin uap, sehingga bangsa
Eropa dapat menjelajahi samudera dan mengalami revolusi industri. Kemajuan
teknologi pada saat itu juga mendorong bangsa barat untuk melakukan penjelahan
yang pada akhirnya menemukan bumi Nusantara. Penemuan seperti kompas, navigasi
dan mesiu juga menjadi hal yang sangat penting. Hal itu dibuktikan dengan
diketemukanya benua Amerika oleh Colombus.
5.
Semangat 3G
Tujuan bangsa Eropa untuk datang ke Indonesia disebut
dengan konsep 3G :
1. Gold =
Mencari kekayaan
2. Glory =
Mencari
kejayaan, kekuasaan, kemenangan
3. Gospel = Menyebarkan
agama
B.
PENJELAJAAN SAMUDRA
Pada tahun 1488, Bartolomeus Diaz berusaha mencari
keberadaan mutiara dari timur sebagai pusat rempah-rempah. Namun, pelayaran
Bartolomeus Diaz ini hanya sampai di ujung Afrika Selatan (1496). Hal ini
disebabkan oleh besarnya gelombang ombak pada waktu itu, sehingga kapal-kapal
Bartolomeus Diaz ini tidak dapat melewatinya, sehingga mereka harus mendarat di
ujung selatan Benua Afrika. Tempat itu dinamakan Tanjung Pengharapan(Tanjung
Harapan) oleh Bartolomeus Diaz. Ia pun memilih untuk kembali ke negerinya.
Pada tahun
1497, raja Portugis mengirim ekspedisi di bawah pimpinan Vasco da Gama.
Ekspedisi ini berhasil mendarat di Kalikut (India) pada tahun 1498.
Pada tahun
1511, Portugis menyadari bahwa India bukanlah pusat rempah-rempah yang
sesungguhnya. Mereka mendengar bahwa Malakalah pusat rempah-rempah yang
sebenarnya. Maka, berangkatlah ekspedisi yang dipimpin oleh Alfonso de
Albuquerque menuju ke Malaka.
C. AWAL
KEDATANGAN BANGSA PORTUGIS KE INDONESIA
Portugis mencapai India pada
tahun 1498 dengan melalui jalur pantai Barat Afrika dan melewati Tanjung
Pengharapan yang terletak di selatan benua Afrika. Tujuan Portugis adalah
menguasai daerah-daerah penghasil rempah-rempah, sehingga Portugis tidak
segan-segan menyerang dan menaklukkan kota-kota pelabuhan yang tidak mau
tunduk.
Setelah menaklukkan dan
mendirikan kantor dagang di Goa India, Portugis melanjutkan ekspedisinya yang
berhasil merebut Malaka pada tahun 1511 dan Maluku tahun 1512. Portugis
mendirikan benteng-benteng untuk mempertahankan kekuasaan di daerah-daerah yang
sudah didudukinya. Daerah-dareah tersebut kemudian dijadikan sebagai bagian
kerajaan Portugis yang berada di seberang lautan yang menandai dilaksanakannya
politik imperialisme.
Ketika Portugis menyerang Malaka,
keadaan di Malaka tidak siap untuk melawan serangan Portugis. Ketidaksiapan
dalam menghadapi serangan Portugis dikarena faktor kekuatan militer dan
persenjataan yang tidak seimbang.
Penguasaan terhadap Maluku
terjadi ketika sedang adanya persaingan antara kerajaan Ternate dan Tidore.
Dalam hal ini Ternate meminta bantuan kepada Portugis untuk membantu mendirikan
benteng pertahanan. Portugis memanfaatkan dengan baik situasi ini dengan
memberikan bantuan kepada Ternate dengan meminta imbalan hak monopoli
rempah-rempah.
D. IMPERIALISME PORTUGIS DI INDONESIA
Keahlian bangsa Portugis dalam
navigasi, pembuatan kapal dan persenjataan memungkinkan mereka untuk melakukan
ekspedisi eksplorasi dan ekspansi. Dimulai dengan ekspedisi eksplorasi yang
dikirim dari Malaka yang baru ditaklukkan dalam tahun 1512, bangsa Portugis
merupakan bangsa Eropa pertama yang tiba di kepulauan yang sekarang menjadi
Indonesia, dan mencoba untuk menguasai sumber rempah-rempah yang berharga dan
untuk memperluas usaha misionaris Katolik Roma. Upaya pertama Portugis untuk
menguasai kepulauan Indonesia adalah dengan menyambut tawaran kerjasama dari
Kerajaan Pajajaran.
Konon, setelah menaklukkan Goa di
India pada tahun 1510 dan pelabuhan dagang penting Malaka di Malaysia tahun
1511, Portugis berlayar lebih jauh lagi menuju ke kepulauan Indonesia. Pada
tahun 1513 penjelajah Portugis di bawah pimpinan de Alvin tiba pertama kali di
Sunda Kelapa dengan armada empat buah kapal.
Kerajaan Padjajaran merupakan kerajaan Hindu terakhir yang berada di Pulau Jawa tepatnya berada di daerah Pakuan, Bogor. Ketika para penjelajah bangsa portugis berlabuh di Sunda Kelapa untuk yang pertama kalinya, situasi politik dan keamanan Kerajaan Padjajaran sedang krisis. Kerajaan Padjajaran sedang dibawah ancaman dua kesultanan Islam, Demak dan Cirebon di sebelah Timur serta Banten disebelah Barat yang sedang melaksanakan ekpansi untuk perluasan pengaruh dan penyebaran agama Islam.
Melihat situasi politik yang sedang terjadi di Sunda Kelapa dalam hal ini kerajaan Padjajaran berinisiatif untuk melakukan kerjasama internasional. Perjanjian tersebut merupakan perjanjian perdagangan dan militer. Pada tahun 1522, pihak Portugis siap membentuk koalisi dengan Pajajaran untuk memperoleh akses perdagangan lada yang menguntungkan. Terjadilah perjanjian sunda kelapa (1522) antara Portugis dan Pajajaran , yang isinya (ditulikan di padrao) sebagai berikut:
1. Portugis diijinkan mendirikan benteng di Sunda Kelapa
2.Pajajaran akan menerima barang-barang yang di butuhkan dari portugis termasuk senjata.
3.Portugis akan memperoleh lada dari pajajaran menurut kebutuhannya,
Kerajaan Padjajaran merupakan kerajaan Hindu terakhir yang berada di Pulau Jawa tepatnya berada di daerah Pakuan, Bogor. Ketika para penjelajah bangsa portugis berlabuh di Sunda Kelapa untuk yang pertama kalinya, situasi politik dan keamanan Kerajaan Padjajaran sedang krisis. Kerajaan Padjajaran sedang dibawah ancaman dua kesultanan Islam, Demak dan Cirebon di sebelah Timur serta Banten disebelah Barat yang sedang melaksanakan ekpansi untuk perluasan pengaruh dan penyebaran agama Islam.
Melihat situasi politik yang sedang terjadi di Sunda Kelapa dalam hal ini kerajaan Padjajaran berinisiatif untuk melakukan kerjasama internasional. Perjanjian tersebut merupakan perjanjian perdagangan dan militer. Pada tahun 1522, pihak Portugis siap membentuk koalisi dengan Pajajaran untuk memperoleh akses perdagangan lada yang menguntungkan. Terjadilah perjanjian sunda kelapa (1522) antara Portugis dan Pajajaran , yang isinya (ditulikan di padrao) sebagai berikut:
1. Portugis diijinkan mendirikan benteng di Sunda Kelapa
2.Pajajaran akan menerima barang-barang yang di butuhkan dari portugis termasuk senjata.
3.Portugis akan memperoleh lada dari pajajaran menurut kebutuhannya,
Perjanjian
Pajajaran - Portugis sangat mencemaskan Sultan Trenggana, Sultan Demak III.
Selat Malaka, pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai
Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Samudra Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk
perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan
laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus. Trenggana
segera mengirim armadanya. 1.452
prajurit di bawah pimpinan Fatahillah, berhasil menguasai kerajaan Padjajaran
dan Sunda Kelapa sehingga pihak Portugis gagal membangun benteng dan pos
dagang, itu artinya isi perjanjian Sunda Kelapa belum sempat di tindaklanjuti.
Peristiwa ditaklukannya kerajaan Padjajaran,
direbutnya Sunda Kelapa, dan diusirnya pasukan Portugis dari Sunda Kelapa
diperingati dengan mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang berarti
“kemenanagan yang nyata”. Peristiwa
tersebut terjadi pada tanggal 22 Juni 1527, oleh karena itu setiap tanggal 22 Juni
diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Padrão Sunda Kelapa, atau
dinamakan juga “Perjanjian Sunda Kelapa”, ditemukan kembali pada tahun
1918.
E. PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP PORTUGIS
Setelah
Malaka dapat dikuasai oleh Portugis 1511, maka terjadilah persaingan dagang
antara pedagang-pedagang Portugis dengan pedagang di Nusantara. Portugis ingin
selalu menguasai perdagangan, maka terjadilah perlawanan-perlawanan terhadap
Portugis. Perlawanan tersebut antara lain:
1)
Perlawanan di Aceh terhadap Portugis
Sejak Portugis dapat menguasai
Malaka, Kerajaan Aceh merupakan saingan terberat dalam dunia perdagangan. Para
pedagang muslim segera mengalihkan kegiatan perdagangannya ke Aceh Darussalam.
Keadaan ini tentu saja sangat merugikan Portugis secara ekonomis, karena Aceh
kemudian tumbuh menjadi kerajaan dagang yang sangat maju. Melihat kemajuan Aceh
ini, Portugis selalu berusaha menghancurkannya, tetapi selalu menemui
kegagalan. Keberhasilan Aceh untuk memperhatankan diri dari ancaman Portugis
disebabkan:
a. Aceh berhasil bersekutu dengan Turki,
Persia, dan India.
b. Aceh memperoleh bantuan kapal, prajurit,
dan makanan dari pedagang muslim di Pulau Jawa.
c. Kapal Aceh dilengkapi persenjataan yang
cukup baik dan prajurit yang tangguh.
Di antara raja-raja Kerajaan Aceh
yang melakukan perlawanan adalah:
1) Sultan Ali Mughayat Syah (1514–1528)
Berhasil membebaskan Aceh dari
upaya penguasaan bangsa Portugis
2) Sultan Alaudin Riayat Syah (1537–1568)
Berani menentang dan mengusir
Portugis yang bersekutu dengan Johor.
3) Sultan Iskandar Muda (1607–1636)
Raja Kerajaan Aceh yang terkenal
sangat gigih melawan Portugis adalah Iskandar Muda. Pada tahun 1615 dan 1629,
Iskandar Muda melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka.
Permusuhan antara Aceh dan
Portugis berlangsung terus tetapi sama-sama tidak berhasil mengalahkan, sampai
akhirnya Malaka jatuh ke tangan VOC tahun 1641. VOC bermaksud membuat Malaka
menjadi pelabuhan yang ramai dan ingin menghidupkan kembali kegiatan
perdagangan seperti yang pernah dialami Malaka sebelum kedatangan Portugis.
2) Ternate melawan Portugis
Pada awalnya Portugis diterima
dengan baik oleh raja setempat dan diijinkan mendirikan benteng, namun
lama-kelamaan, rakyat Ternate mengadakan perlawanan.
Perlawanan ini terjadi karena
sebab-sebab berikut ini:
a. Portugis melakukan monopoli perdagangan.
b. Portugis ikut campur tangan dalam
pemerintahan.
c. Portugis ingin menyebarkan agama
Katholik, yang berarti bertentangan dengan agama yang telaah
dianut oleh rakyat Ternate.
dianut oleh rakyat Ternate.
d. Bangsa
Portugis yang serakah, sombong, dan semena-mena.
Berdasarkan faktor-faktor
tersebut, maka kehendak Portugis ditolak oleh raja Ternate. Rakyat Ternate
dipimpin oleh Sultan Hairun bersatu dengan Tidore melawan Portugis, sehingga Portugis
dapat didesak. Pada waktu terdesak, Portugis mendatangkan bantuan dari Malaka
dipimpin oleh Antoni Galvo, sehingga Portugis mampu bertahan di Maluku.
Pada tahun 1565, rakyat Ternate
bangkit kembali di bawah pimpinan Sultan Hairun. Portugis berusaha menangkap
Sultan Hairun, namun rakyat bangkit untuk melawan Portugis dan berhasil
membebaskan Sultan Hairun dan tawanan lainnya. Akan tetapi Portugis melakukan
tindakan licik dengan mengajak Sultan Hairun berunding. Dalam perundingan,
Sultan Hairun ditangkap dan dibunuh. Perlawanan rakyat Ternate dilanjutkan di
bawah pimpinan Sultan Baabullah (putera Sultan Hairun). Pada tahun 1574 benteng
Portugis dapat direbut, kemudian Portugis menyingkir ke Hitu dan akhirnya
menguasai dan menetap di Timor-Timur sampai Tahun 1975.
3) Perlawanan Kerajaan Demak
Untuk menyingkirkan Portugis dari
Malaka, Pangeran Sabrang Lor atau Dipati
Unus menghimpun
dan mengirimkan pasukan dari Jawa,Makasar,Lampung dan bekerjasama dengan
kerajaan Aceh untuk merebut pelabuhan Malaka namun gagal karena kalah
persenjataan bahkan Dipati
Unus tertembak namun masih selamat sampai di Jawa. Untuk menghalangi kekuasaan
Portugis atas Jawa pengganti Dipati Unus yaitu Sultan Trenggono memperluas kekuasaan
ke Jawa Barat dan Jawa
F. PENGARUH KEDATANGAN PORTUGIS KE INDONESIA
Zaman kekuasaan kolonial Portugis yang
berlangsung dari tahun 1511-1641 di wilayah Indonesia meninggalkan
bekas-bekasnya di dalam kebudayaan Indonesia saat ini. Peninggalan-peninggalan
zaman kolonial Portugis baik yang berupa yang berupa kebudayaan rohani maupun
jasmani masih dapat kita saksikan hingga sekarang.
Semboyan dari penjelajahan bangsa
Portugis, yaitu berusaha untuk menyebarkan agama Katolik pada daerah-daerah
yang dikuasainya. Fransiscus Xaverius, seorang misionaris, telah meyebarluaskan
agama Katolik di Ambon. Banyak orang Ambon yang akhirnya memeluk agama Katolik
dan terlihat dari nama-namanya yang meniru nama-nama bangsa Portugis seperti,
De Pereira, De Fretes, Lopies, De Quelju, Diaz, dan sebagainya.
Benda-benda peninggalan bangsa
Portugis kemudian dianggap keramat oleh bangsa Indonesia seperti meriam-meriam
yang terkenal dengan nama Nyai Setomi di Solo, Si Jagur di Jakarta, Ki Amuk di
Banten dan sebagainya. Khusus meriam Si Jagur yang terdapat di Jakarta dianggap
sebagai alat perantara kekuatan gaib untuk mendapatkan anak.
Pengaruh lainnya seperti bahasa
Portugis yang turut memperkaya jumlah kata-kata dalam bahasa Indonesia, seperti
kata San Domingo (Tuhan yang keramat), gereja, mentega, mona (dari kata
madona), sinyo (dari kata signor) dan sebagainya. Adapun seni musik yang
digemari oleh masyarakat Indonesia adalah seni musik keroncong yang berasal
dari seni musik Portugis. Keroncong berbahasa Portugis yang pernah terkenal di
Indonesia adalah keroncong Morisco.
Terimakasih
BalasHapusKok cuma tentang Portugis doang?
BalasHapusTerimakasih
BalasHapus