Rabu, 04 Juli 2018

PETUALANGAN, PENJELAJAHAN, DAN PEREBUTAN HEGEMONI BANGSA PORTUGIS DI NUSANTARA



A.     LATAR BELAKANG
Indonesia terkenal akan kekayaan alamnya sejak dahlu. Berbagai macam flora dan fauna sangat mudah ditemukan di negeri kita ini. Namun, kebaikan bangsa Indonesia ini disalahgunakan oleh bangsa barat, seperti Eropa. Keserakahan bangsa Eropa yang menanamkan pemahaman kolonialisme dan imperialisme menjadi awal dari kegiatan “perburuan mutiara dari timur”. Berikut adalah hal yang melatar belakangi kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia:
1.      Runtuhnya Kekaisaran Romawi
Kekaisaran Romawi mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Kaisar Octavianus Augustus dimana kekuasaanya hampir meliputi seluruh Eropa, Afrika Utara dan Afrika Barat. Namun setelah runtuhnya kekaisaran Romawi ini pada tahun 476 M berakibat pada kemunduran jalinan dagang antara Asia dengan Eropa yang mengakibatkan kehidupan wilayah tersebut semakin merosot. Zaman kemunduran ini disebut dengan istilah Zaman Kegelapan (Dark Ages) dan membuat tatanan hidup bangsa-bangsa di Eropa menjadi kacau balau.

2.      Perang Salib
Perang ini disebabkan karena perebutan kota Yerusalem. Dampak adanya Perang Salib :
*      Jalur perdagangan Eropa dan Timur Tengah menjadi terputus. Apalagi dengan dikuasainya Konstantinopel, maka para pedagang Eropa mulai mencari jalan lain untuk mendapatkan rempah-rempah secara langsung.
*      Bangsa Eropa mulai mengetahui kelemahan dan ketertinggalan mereka dari orang-orang Islam dan Timur, sehingga mereka mencoba untuk mengejar ketertinggalan itu dengan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) secara besar-besaran.

3.      Jatuhnya Konstatinopel ke tangan Turki
Terjadi pada tahun  1453, Turki menguasai Konstatinopel II dan menimbulkan kesulitan bagi bangsa Eropa khususnya dalam bidang perdagangan, akses bangsa Eropa untuk mendapatkan komoditas penting seperti rempah-rempah, emas, gading, sutera seperti sebelumnya menjadi tertutup.

4.       Perkembangan Teknologi
Hal ini didorong oleh penemuan mesin uap, sehingga bangsa Eropa dapat menjelajahi samudera dan mengalami revolusi industri. Kemajuan teknologi pada saat itu juga mendorong bangsa barat untuk melakukan penjelahan yang pada akhirnya menemukan bumi Nusantara. Penemuan seperti kompas, navigasi dan mesiu juga menjadi hal yang sangat penting. Hal itu dibuktikan dengan diketemukanya benua Amerika oleh Colombus.

5.      Semangat 3G
Tujuan bangsa Eropa untuk datang ke Indonesia disebut dengan konsep 3G :
1. Gold = Mencari kekayaan
2. Glory = Mencari kejayaan, kekuasaan, kemenangan
3. Gospel = Menyebarkan agama



B. PENJELAJAAN SAMUDRA
*      BARTOLOMEUS DIAZ (1488)
     Pada tahun 1488, Bartolomeus Diaz berusaha mencari keberadaan mutiara dari timur sebagai pusat rempah-rempah. Namun, pelayaran Bartolomeus Diaz ini hanya sampai di ujung Afrika Selatan (1496). Hal ini disebabkan oleh besarnya gelombang ombak pada waktu itu, sehingga kapal-kapal Bartolomeus Diaz ini tidak dapat melewatinya, sehingga mereka harus mendarat di ujung selatan Benua Afrika. Tempat itu dinamakan Tanjung Pengharapan(Tanjung Harapan) oleh Bartolomeus Diaz. Ia pun memilih untuk kembali ke negerinya.
 


*      VASCO DA GAMA (1497)
Pada tahun 1497, raja Portugis mengirim ekspedisi di bawah pimpinan Vasco da Gama. Ekspedisi ini berhasil mendarat di Kalikut (India) pada tahun 1498.
*      ALFONSO DE  ALBUQUERQUE
Pada tahun 1511, Portugis menyadari bahwa India bukanlah pusat rempah-rempah yang sesungguhnya. Mereka mendengar bahwa Malakalah pusat rempah-rempah yang sebenarnya. Maka, berangkatlah ekspedisi yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque menuju ke Malaka.

C.  AWAL KEDATANGAN BANGSA PORTUGIS KE INDONESIA
Portugis mencapai India pada tahun 1498 dengan melalui jalur pantai Barat Afrika dan melewati Tanjung Pengharapan yang terletak di selatan benua Afrika. Tujuan Portugis adalah menguasai daerah-daerah penghasil rempah-rempah, sehingga Portugis tidak segan-segan menyerang dan menaklukkan kota-kota pelabuhan yang tidak mau tunduk.
Setelah menaklukkan dan mendirikan kantor dagang di Goa India, Portugis melanjutkan ekspedisinya yang berhasil merebut Malaka pada tahun 1511 dan Maluku tahun 1512. Portugis mendirikan benteng-benteng untuk mempertahankan kekuasaan di daerah-daerah yang sudah didudukinya. Daerah-dareah tersebut kemudian dijadikan sebagai bagian kerajaan Portugis yang berada di seberang lautan yang menandai dilaksanakannya politik imperialisme.
Ketika Portugis menyerang Malaka, keadaan di Malaka tidak siap untuk melawan serangan Portugis. Ketidaksiapan dalam menghadapi serangan Portugis dikarena faktor kekuatan militer dan persenjataan yang tidak seimbang.
Penguasaan terhadap Maluku terjadi ketika sedang adanya persaingan antara kerajaan Ternate dan Tidore. Dalam hal ini Ternate meminta bantuan kepada Portugis untuk membantu mendirikan benteng pertahanan. Portugis memanfaatkan dengan baik situasi ini dengan memberikan bantuan kepada Ternate dengan meminta imbalan hak monopoli rempah-rempah.
D.    IMPERIALISME PORTUGIS DI INDONESIA
Keahlian bangsa Portugis dalam navigasi, pembuatan kapal dan persenjataan memungkinkan mereka untuk melakukan ekspedisi eksplorasi dan ekspansi. Dimulai dengan ekspedisi eksplorasi yang dikirim dari Malaka yang baru ditaklukkan dalam tahun 1512, bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang tiba di kepulauan yang sekarang menjadi Indonesia, dan mencoba untuk menguasai sumber rempah-rempah yang berharga dan untuk memperluas usaha misionaris Katolik Roma. Upaya pertama Portugis untuk menguasai kepulauan Indonesia adalah dengan menyambut tawaran kerjasama dari Kerajaan Pajajaran.

Konon, setelah menaklukkan Goa di India pada tahun 1510 dan pelabuhan dagang penting Malaka di Malaysia tahun 1511, Portugis berlayar lebih jauh lagi menuju ke kepulauan Indonesia. Pada tahun 1513 penjelajah Portugis di bawah pimpinan de Alvin tiba pertama kali di Sunda Kelapa dengan armada empat buah kapal.

Kerajaan Padjajaran merupakan kerajaan Hindu terakhir yang berada di Pulau Jawa tepatnya berada di daerah Pakuan, Bogor. Ketika para penjelajah bangsa portugis berlabuh di Sunda Kelapa untuk yang pertama kalinya, situasi politik dan keamanan Kerajaan Padjajaran sedang krisis.  Kerajaan Padjajaran sedang dibawah ancaman dua kesultanan Is
lam, Demak dan Cirebon di sebelah Timur serta Banten disebelah Barat yang sedang melaksanakan ekpansi untuk perluasan pengaruh dan penyebaran agama Islam.

Melihat situasi politik yang sedang terjadi di Sunda Kelapa dalam hal ini kerajaan Padjajaran berinisiatif untuk melakukan kerjasama internasional. Perjanjian tersebut merupakan perjanjian perdagangan dan milite
r. Pada tahun 1522, pihak Portugis siap membentuk koalisi dengan Pajajaran untuk memperoleh akses perdagangan lada yang menguntungkan. Terjadilah perjanjian sunda kelapa (1522) antara Portugis dan Pajajaran , yang isinya (ditulikan di padrao) sebagai berikut:
1. Portugis diijinkan mendirikan benteng di Sunda Kelapa
2.Pajajaran akan menerima barang-barang yang di butuhkan dari portugis termasuk senjata.
3.Portugis akan memperoleh lada dari pajajaran menurut kebutuhannya,
Perjanjian Pajajaran - Portugis sangat mencemaskan Sultan Trenggana, Sultan Demak III. Selat Malaka, pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Samudra Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus. Trenggana segera mengirim armadanya. 1.452 prajurit di bawah pimpinan Fatahillah, berhasil menguasai kerajaan Padjajaran dan Sunda Kelapa sehingga pihak Portugis gagal membangun benteng dan pos dagang, itu artinya isi perjanjian Sunda Kelapa belum sempat di tindaklanjuti.
Peristiwa  ditaklukannya kerajaan Padjajaran, direbutnya Sunda Kelapa, dan diusirnya pasukan Portugis dari Sunda Kelapa diperingati dengan mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang berarti “kemenanagan yang nyata”. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 22 Juni 1527, oleh karena itu setiap tanggal 22 Juni diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Padrão Sunda Kelapa, atau dinamakan juga “Perjanjian Sunda Kelapa”, ditemukan kembali pada tahun 1918. 
E.     PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP PORTUGIS
Setelah Malaka dapat dikuasai oleh Portugis 1511, maka terjadilah persaingan dagang antara pedagang-pedagang Portugis dengan pedagang di Nusantara. Portugis ingin selalu menguasai perdagangan, maka terjadilah perlawanan-perlawanan terhadap Portugis. Perlawanan tersebut antara lain:

1) Perlawanan di Aceh terhadap Portugis
Sejak Portugis dapat menguasai Malaka, Kerajaan Aceh merupakan saingan terberat dalam dunia perdagangan. Para pedagang muslim segera mengalihkan kegiatan perdagangannya ke Aceh Darussalam. Keadaan ini tentu saja sangat merugikan Portugis secara ekonomis, karena Aceh kemudian tumbuh menjadi kerajaan dagang yang sangat maju. Melihat kemajuan Aceh ini, Portugis selalu berusaha menghancurkannya, tetapi selalu menemui kegagalan. Keberhasilan Aceh untuk memperhatankan diri dari ancaman Portugis disebabkan:
a.       Aceh berhasil bersekutu dengan Turki, Persia, dan India.
b.      Aceh memperoleh bantuan kapal, prajurit, dan makanan dari pedagang muslim di Pulau Jawa.
c.       Kapal Aceh dilengkapi persenjataan yang cukup baik dan prajurit yang tangguh.
Di antara raja-raja Kerajaan Aceh yang melakukan perlawanan adalah:
1)      Sultan Ali Mughayat Syah (1514–1528)
Berhasil membebaskan Aceh dari upaya penguasaan bangsa Portugis
2)       Sultan Alaudin Riayat Syah (1537–1568)
Berani menentang dan mengusir Portugis yang bersekutu dengan Johor.
3)      Sultan Iskandar Muda (1607–1636)
Raja Kerajaan Aceh yang terkenal sangat gigih melawan Portugis adalah Iskandar Muda. Pada tahun 1615 dan 1629, Iskandar Muda melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka.
Permusuhan antara Aceh dan Portugis berlangsung terus tetapi sama-sama tidak berhasil mengalahkan, sampai akhirnya Malaka jatuh ke tangan VOC tahun 1641. VOC bermaksud membuat Malaka menjadi pelabuhan yang ramai dan ingin menghidupkan kembali kegiatan perdagangan seperti yang pernah dialami Malaka sebelum kedatangan Portugis.

2) Ternate melawan Portugis
Pada awalnya Portugis diterima dengan baik oleh raja setempat dan diijinkan mendirikan benteng, namun lama-kelamaan, rakyat Ternate mengadakan perlawanan.
Perlawanan ini terjadi karena sebab-sebab berikut ini:
a.       Portugis melakukan monopoli perdagangan.
b.      Portugis ikut campur tangan dalam pemerintahan.
c.       Portugis ingin menyebarkan agama Katholik, yang berarti bertentangan dengan agama yang telaah
          dianut oleh rakyat Ternate.
d.      Bangsa Portugis yang serakah, sombong, dan semena-mena.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka kehendak Portugis ditolak oleh raja Ternate. Rakyat Ternate dipimpin oleh Sultan Hairun bersatu dengan Tidore melawan Portugis, sehingga Portugis dapat didesak. Pada waktu terdesak, Portugis mendatangkan bantuan dari Malaka dipimpin oleh Antoni Galvo, sehingga Portugis mampu bertahan di Maluku.
Pada tahun 1565, rakyat Ternate bangkit kembali di bawah pimpinan Sultan Hairun. Portugis berusaha menangkap Sultan Hairun, namun rakyat bangkit untuk melawan Portugis dan berhasil membebaskan Sultan Hairun dan tawanan lainnya. Akan tetapi Portugis melakukan tindakan licik dengan mengajak Sultan Hairun berunding. Dalam perundingan, Sultan Hairun ditangkap dan dibunuh. Perlawanan rakyat Ternate dilanjutkan di bawah pimpinan Sultan Baabullah (putera Sultan Hairun). Pada tahun 1574 benteng Portugis dapat direbut, kemudian Portugis menyingkir ke Hitu dan akhirnya menguasai dan menetap di Timor-Timur sampai Tahun 1975.

3) Perlawanan Kerajaan Demak
Untuk menyingkirkan Portugis dari Malaka, Pangeran Sabrang Lor atau Dipati Unus menghimpun dan mengirimkan pasukan dari Jawa,Makasar,Lampung dan bekerjasama dengan kerajaan Aceh untuk merebut pelabuhan Malaka namun gagal karena kalah persenjataan bahkan Dipati Unus tertembak namun masih selamat sampai di Jawa. Untuk menghalangi kekuasaan Portugis atas Jawa pengganti Dipati Unus yaitu Sultan Trenggono memperluas kekuasaan ke Jawa Barat dan Jawa

F.     PENGARUH KEDATANGAN PORTUGIS KE INDONESIA
Zaman kekuasaan kolonial Portugis yang berlangsung dari tahun 1511-1641 di wilayah Indonesia meninggalkan bekas-bekasnya di dalam kebudayaan Indonesia saat ini. Peninggalan-peninggalan zaman kolonial Portugis baik yang berupa yang berupa kebudayaan rohani maupun jasmani masih dapat kita saksikan hingga sekarang.
Semboyan dari penjelajahan bangsa Portugis, yaitu berusaha untuk menyebarkan agama Katolik pada daerah-daerah yang dikuasainya. Fransiscus Xaverius, seorang misionaris, telah meyebarluaskan agama Katolik di Ambon. Banyak orang Ambon yang akhirnya memeluk agama Katolik dan terlihat dari nama-namanya yang meniru nama-nama bangsa Portugis seperti, De Pereira, De Fretes, Lopies, De Quelju, Diaz, dan sebagainya.
Benda-benda peninggalan bangsa Portugis kemudian dianggap keramat oleh bangsa Indonesia seperti meriam-meriam yang terkenal dengan nama Nyai Setomi di Solo, Si Jagur di Jakarta, Ki Amuk di Banten dan sebagainya. Khusus meriam Si Jagur yang terdapat di Jakarta dianggap sebagai alat perantara kekuatan gaib untuk mendapatkan anak.
Pengaruh lainnya seperti bahasa Portugis yang turut memperkaya jumlah kata-kata dalam bahasa Indonesia, seperti kata San Domingo (Tuhan yang keramat), gereja, mentega, mona (dari kata madona), sinyo (dari kata signor) dan sebagainya. Adapun seni musik yang digemari oleh masyarakat Indonesia adalah seni musik keroncong yang berasal dari seni musik Portugis. Keroncong berbahasa Portugis yang pernah terkenal di Indonesia adalah keroncong Morisco.

 

3 komentar: